Pengalaman Menyapih yang Menyenangkan

Menyapih mungkin bukan hal besar bagi sebagian orang, tapi bagi saya, menyapih adalah proses yang luar biasa.


Bagaimana tidak?

Yang saya pikirkan sebelum akhirnya mendadak harus benar- benar menyapih kim oh ra gara- gara daycare libur adalah harus siap, karena kebetulan ada jeda beberapa hari yang bisa saya manfaatkan untuk mempersiapkannya.

Persiapannya sudah saya share di tulisan sebelumnya.

Sebelum siap, pastinya saya ada rasa takut apa saya bisa menyapihnya semudah itu?

Bahwa nampaknya menyapih itu rasa rasanya agak mirip dengan patah hati akibat putus cinta.

Hihi lebay

Tapi memang begitulah yang ada di pikiran saya. Setidaknya sebelum saya akhirnya siap menyapih, saya harus merasakan apa kira- kira yang akan dirasakan kimi ketika harus berpisah dari kebiasaan lamanya, yaitu nenen.

Nah katakanlah, kimi dan nenen sudah jadian selama kurang lebih dua tahun, selama kurun waktu itu banyak hal manis terlewati, apalagi kenyamanan yang sudah amat dirasakan kimi ketika bersama- sama si nenen.

Seketika kebersamaan itu harus dipisahkan. Kira- kira apa yang dirasakan kimi kalau tidak patah hati?

Tapi gak cuma kimi yang patah hati, sebetulnya ibu yang punya nenen juga patah hati. Ya Ami juga patah hati Buybu.

Kalau selama nenen, tercipta kedekatan yang nyata antara ami dan kimi, sekarang tidak akan ada lagi momen itu.

Walau tetap ada banyak momen kedekatan tapi tidak ada yang seintens ketika kita menyusui, saat kimi tetap menyanyi walau mulutnya lagi nenen, saat saya mengajarinya nama- nama bagian wajah sambil nenen, hingga sampailah saat kimi menunjuk dan menyebutkan nama- nama bagian wajah dan tubuh sambil nenen yang menandakan ya, dia mengerti yang saya ajarkan padanya selama ini.

Oh ya, juga saat saya menganggap lucu wajah seriusnya ketika nenen, haha entah kenapa rasanya lucu sekali, serius banget sih dia, padahal cuma nenen.

Banyak banget momen indah yang tentu saja sulit dilupakan, dan itulah alasan kenapa sebelumnya saya bilang bahwa menyapih itu persis patah hati.

Maka untuk menyiasatinya tentu harus memperlakukan anak bayi seperti orang yang sedang patah hati, salah satunya dengan memberikan kasih sayang ekstra agar dia tidak merasa penyapihan ini sebagai momen kehilangan kasih sayang karena pada kenyataannya menyapih adalah proses awal kemandirian si kecil.


Di atas keberhasilan proses menyapih tanpa drama adalah hal ini, yaitu hal yang paling membuat saya takjub, ternyata kimi mengerti atas apa yang saya katakan padanya.

Jauh sebelum jatuh periode penyapihan, saya sudah mengatakan bahwa, nenen hanya untuk anak bayi, jadi kalau kimi sudah berusia dua tahun artinya dia sudah bukan bayi jadi sudah tidak nenen.

Akhirnya dia benar- benar lepas dari nenen tanpa harus saya oleskan "sesuatu" pada si nenen agar kimi tidak lagi doyan nenen.

Saya pikir, semakin besar semakin dia mengerti untuk disapih, dan usia dua tahun benar waktu yang tepat untuk melepasnya dari nenen.

Selamat lulus asi, Kim Oh Ra yang pinter nan soleha ❤️

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian," (Q.S Al-Baqarah: 233)




You Might Also Like

0 comments