Pesona Indah 5 Gunung dan Arunika Keemasan di Puncak Sikunir, Dieng

Waktu itu tahun 2015 ketika saya masih muda hehe maksudnya pas masih single dan masih bebas bepergian tanpa bingung mikirin bayik- bayik tersayangku, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Dieng yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, diantara Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara.

Siapa sih yang gak tau Dieng? Selain terkenal karena tradisi ruwatan rambut gimbal-nya, Dieng juga dikenal dengan julukan negeri di atas awan. Wah kebayang gak sih indahnya Dieng. Gak Cuma itu, sebenarnya banyak banget yang terkenal dari Dieng hingga membuat saya dan teman- teman begitu tertarik untuk mengunjunginya.

Perjalanan dari Bandung ke Dieng memakan waktu sekitar 6 – 7 jam. Walau ngaretnya kebangetan tapi perjalanan lancar, nyaman, dan lega dalam bus berkapasitas 25 orang yang hanya diisi setengahnya. Baru deh sesampainya di jalan sekitar Dieng, lalu lintas padat sekali, macet, kendaraan berhenti agak lama sampai banyak orang turun dari kendaraan untuk mampir dulu ke warung menyeduh mie.

Kenapa padat sekali?

Saat itu memang sengaja saya dan yang lainnya datang ke sana untuk ikut serta dalam kemeriahan acara Dieng Culture Festival (DCF). Event DCF ini memang rutin diselenggarakan setiap tahun pada setiap akhir bulan Juli atau bulan Agustus, maka pada bulan- bulan itu biasanya Dieng dipadati oleh para wisatawan yang ingin turut memeriahkan festival budaya tersebut. Maka tak heran, hari itu jalanan amat sangat padat syekali.

Walau macet, tapi pemandangan dan suasana di sekitar yang masih asri bikin gak kerasa tau- tau bis kami udah sampai di atas di sekitar kawasan Dieng. Hawa dingin mulai masuk ke dalam bis, kaca bis pun mulai berembun, kami pun mulai menyiapkan sarung tangan. Hari semakin sore menjelang maghrib, kami langsung bergegas menuju penginapan.

Di penginapan dingiiiin banget, ada selimut sih tapi tetep dingin, kami bercengkrama sebentar di ruang tengah, ngobrol dan berkenalan dengan teman- teman baru senasib seperjalanan.


Malam itu waktu berlalu cepat karena kami memang datang agak terlambat, selain karena ngaretnya keterlaluan, juga karena padatnya jalanan. Setelah ngobrol, kami semua bebersih tapi gak ada yang berani mandi karena airnya dingin banget, entah suhunya berapa, jadi kebanyakan kami cuma sikat gigi, cuci muka, cuci kaki, dan berwudhu.

Setelah bebersih kami semua bergegas untuk istirahat sebentar karena rencana esok pagi buta sebelum subuh sudah harus berangkat menuju puncak sikunir.

Kira- kira pukul 2 pagi buta kami semua udah bangun, antri memakai toilet dan mulai bersiap- siap berangkat ke puncak sikunir. Pukul 3 kami sudah siap dan menunggu mobil yang akan mengantar kami menuju Sikunir. Tidak lama mobil bak itu datang. Ya, di pagi buta yang dingin itu kami semua berangkat ke Sikunir menggunakan mobil bak dan pastinya seruuuuu banget Buybuuu. Perjalanan dari penginapan ke Sikunir gak begitu jauh sebenarnya, hanya karena sedang banyak wisatawan saja jadi jam 4 kami baru sampai di parkiran Sikunir yang ternyata udah lumayan ramai.




1. Puncak Sikunir

Kami langsung deh mulai tracking ke atas Bukit Sikunir. Jadi, seingat saya ada dua jalur yang bisa dilalui untuk naik ke desa tertinggi di Dieng itu, yaitu jalur biasa dan jalur prestasi. Haha becanda dink. Seinget saya memang ada dua jalur di situ ada jalur yang biasa yang mana jarak tempuhnya sekitar 800m namun tracknya tidak terlalu curam. Ada juga jalur yang jalanannya cukup curam menanjak namun jaraknya hanya kurang lebih 500m.

Tentu saja yang lebih padat adalah yang jalur biasa. Alhasil saya dan teman- teman memilih lewat jalur prestasi. Hehe

Tracknya memang agak lumayan tapi jalanan di sini lebih sepi daripada jalur biasa. Tentunya kalau mau nanjak begini harus benar- benar siap fisik dan peralatan tempur ya Buybu, karena saat saya sedang mendaki, ada orang yang sesak napas karena kelelahan. Kasihan kan, apalagi udah di tengah jalan, mau turun jauh mau naik apalagi. Yang pasti jangan lupa juga bawa bekel minuman, pakai sendal gunung biar gak licin, jangan pakai high heels apalagi flat shoes hehe

Singkat cerita akhirnya kami sampai di atas Bukit Sikunir saat matahari belum terbit. Yeay pas banget kan tinggal nungguin golden sunrise-nya nih. Tidak lama perlahan- lahan matahari pun terbit memancarkan cahayanya memberikan kehangatan, menyuburkan tanaman, dan menyinari dunia.

Asik banget menikmati kehangatan pagi itu dengan berfoto, bercanda tawa, dan yang super duper memukau adalah pemandangan di sekitar Puncak Sikunir, di sana terlihat beberapa gunung yang berdiri dengan gagahnya, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Ungaran, Merbabu, dan Merapi. Betapa keindahan dan perasaan yang gak bisa diungkap dengan kata. Sungguh. Inilah ciptaan Allah. Betapa Maha Besar-Nya.

Ku berjalan tanpa lelah
Menuju puncak cahaya
Ku kira tak pernah ada
Ku kira selama ini hanya maya

Hingga tiba di puncaknya
Inilah puncak sikunir
Yang di sana terbit cahaya
Dan di hati sempat kuukir

Cahayanya menerangi alam semesta
Cerah hingga dunia terpana
Disana pun kau menyaksikannya
Karena dirinya membuat pagi ceria

Terimakasih arunika sikunir
Ku lihat jauh di sana ada yang gagah berdiri
berani namun penuh misteri
Itulah Sindoro dan Sumbing
Juga Ungaran, Merbabu, dan Merapi

Hai, kusampaikan salam pada mereka
Gunung cantik nan misterius
Belum pernah ku kesana
Mungkin karena belum serius


2. Ruwatan Rambut Gimbal

Saking asiknya menikmati indahnya pemandangan di atas Sikunir, kami pun jadinya turun kesiangan, jalanan juga udah gak seramai tadi, jadi kami pun turun melalui jalur biasa, bukan dari jalur prestasi lagi. Hehhe

Sesampainya di parkiran Sikunir, kami pun kembali menaiki kendaraan yang tadi mengantar kami, yap mobil bak. Oh iya, jangan dikira Dieng itu dingin terus, karena kalo udah siang hari tetep aja mataharinya bikin gerah, atau mungkin karena aktivitas yang padat disertai baju dan jaket berlapis ya?
Bisa jadi.

Owkay, setelah puas dengan keindahan alam sekitar Dieng yang bisa dilihat dari Puncak Sikunir, kami pun menuju Candi Arjuna untuk menyaksikan Prosesi Ruwatan Rambut Gimbal.

Tapi sayang, jalanan waktu itu amat sangat padat sekali sampai mobil gak maju- maju, jadi kami ketinggalan acara prosesi ruwatan rambut gimbal tersebut.

Sebenarnya apa sih Ruwatan rambut gimbal itu?

Ruwatan rambut gimbal adalah sebuah ritual potong rambut untuk anak- anak warga Dieng yang memiliki rambut gimbal. Upacara ruwatan ini diadakan setiap 1 suro kalender Jawa. Upacara ini bertujuan untuk menyelamatkan anak berambut gimbal dari berbagai kesulitan.

Uniknya lagi, rambut gimbal anak- anak ini hanya dapat dicukur jika anak tersebut sudah siap melakukan ritual adat yang dipimpin oleh Tetua Adat. Gak Cuma itu, ritual ini pun hanya bisa dilaksanakan setelah orangtua dari anak tersebut telah memberikan apa yang diinginkan oleh sang anak. Nah kabarnya, bila rambut gimbal anak ini dicukur tanpa melalui upacara ruwatan, maka rambut gimbal anak ini akan tumbuh kembali dan si anak jadi sakit- sakitan.

Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal di Dieng merupakan suatu pertunjukan budaya yang menyatu dengan acara Dieng Culture Festival yang diadakan secara rutin sejak pertama kali pada tahun 2010 hingga saat ini. Selain itu, Ruwatan Rambut Gimbal sudah ditetapkan oleh KEMENDIKBUD sebagai warisan budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2016.

3. Mie Ongklok Dieng

Setelah belum berkesempatan mengikuti prosesi ruwatan rambut gimbal yang harga tiket masuknya waktu itu 125ribu rupiah, akhirnya kami pun lapar dan langsung meluncur ke warung makan untuk makan mie ongklok khas Dieng. Berkunjung ke Dieng tanpa makan mie ongklok itu bagaikan aku tanpa kamu, kayak ada yang kurang.

Aseeek

Mie ongklok itu mirip kayak Lo mie, kuahnya kental berwarna coklat dan diracik dengan potongan sayur kol dan daun kucai. Ada juga bakso, taburan bawang goreng, kerupuk pangsit, dan lainnya.

Rasanya tentu saja endolita, bikin pengen nambah lagiii. Hihi laper apa doyan ya.


4. Danau Telaga Warna

Setibanya di Danau Telaga Warna...

Danau sedang berwarna hijau saat itu, dan tentu saja dipadati pengunjung, apalagi sedang ada shooting untuk suatu acara di TV swasta yang waktu itu lagi naik daun. Nah, para kru TV sedang mengambil gambar salah satu dari rangkaian prosesi rambut gimbal, karena di Telaga Warna inilah rambut anak gimbal yang sudah dicukur akan dilarung.

Kenapa rambut gimbal dilarung di Telaga Warna?

Karena air dari danau Telaga Warna akan mengalir ke Sungai Serayu yang bermuara di Pantai Selatan. Selain itu, kabarnya juga, anak- anak berambut gimbal di Dieng adalah titipan dari Ratu Pantai Selatan.

Sebenarnya masih banyak tempat indah di Dieng ini dan masih ada beberapa tempat yang ada di itinerary juga namun gak sempet dikunjungi karena jalanan yang begitu padatnya, seperti kawah sikidang, Dieng Plateu, Candi Arjuna, dan lain- lain. Tapi walau begitu kami super happy karena bisa banyak menghabiskan waktu di Bukit Sikunir menikmati matahari terbit paling ciamik ditemani kopi dan pemandangan sekitar yang luar biasa indahnya.

Nanti, jalan lagi yuk!


You Might Also Like

4 comments