Kisah Nyata: Hargailah Perjuangan Orangtuamu

“Kamu itu sebenernya tidak diharapkan kelahirannya, cuma karena Mbah aja yang minta Mama nambah anak, jadinya kamu dilahirkan deh”

Itu sepotong percakapan yang kudengar dari mulut Mama kepadaku yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu aku cuma diam dan tidak begitu menghiraukan perkataannya walaupun sekarang kata- katanya jelas tertanam di dalam otakku.

Aku itu dulu memang anak kesayangan Papah. Makanya Papah sering banget bilang, “Cuma kamu yang bisa Papah andelin”. Padahal aku anak bungsunya, dari 3 bersaudara, kakakku lengkap, yang pertama perempuan yang kedua laki- laki.

Papah itu pekerja keras, beliau bekerja di salah satu perusahaan negara kelas atas dengan gaji yang amat sangat lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami berlima. Makanya Mamaku keluar dari pekerjaannya ketika aku lahir, tapi mungkin karena alasan itu juga yang membuat beliau jadi sangat membenciku. Entahlah. Bagaimanapun Mama tetap Ibuku yang udah susah payah mau mengandung dan melahirkanku.
 

Didikan Mama

Ya aku bersyukur dilahirkan di keluarga yang berada dan sangat berkecukupan.
Tapi bener kata orang, harta gak bisa menjamin kita bisa hidup damai tenteram dan bahagia.
Apalagi semua anggota keluargaku orangnya memang unik- unik. Hehe

“Pokoknya Mama gak mau keluarga Papah yang orang kampung itu nginep di rumah ini walaupun cuma semalam”
Itu pun sepotong percakapan yang seingatku kudengar dari mulut Mama kepada Papa. Alhasil siang itu keluarga Papa yang baru datang dari luar kota yang cukup jauh pun hanya mampir sebentar, sorenya langsung pulang lagi karena tidak diperbolehkan Mama menginap di rumah.

Memang banyak sikap Mama yang sebenernya gak sejalan denganku, tapi apalah aku hanya seorang anak kecil. Bahkan Asisten Rumah Tangga pun gak ada yang sanggup lebih dari satu bulan bekerja di rumah.

Pernah denger kan kalau anak itu meniru orangtuanya?
 
Yah, karena didikan Mama itu lah Kakak perempuanku pun tumbuh jadi manusia unik yang juga suka meremehkan orang lain yang keadaan ekonominya “kurang” atau “biasa” aja. Padahal keadaan orang bisa berputar, kita gak selamanya akan ada di atas terus toh?

Sedangkan Abangku mungkin masih lebih mendingan untuk urusan tidak meremehkan orang lain. Abangku sih enggak begitu, cuma yang bikin aku kecewa dengan abang ya karena dua kali pindah kuliah tapi gak ada yang beres. Bayangin orang mah harus cari duit buat bayar kuliah, ini yang punya uang malah kuliahnya dijadiin main- main. Bukankah biaya kuliah itu mahal apalagi sampe pindah dua kali lho?

Mbakku pun sebenernya sama, kuliahnya juga gak selesai dengan alasan pengen nikah.

Hmm gimana? Udah tau kan alasan kenapa Papah bilang cuma bisa ngandelin aku?
Karena ya itu, karakter anggota keluarga yang lain memang aneh- aneh, hehe. Sebenernya banyak banget masalah, ujian, dan cobaan di keluarga ini dan sifat unik yang bisa dijadikan pelajaran tapi kalau diungkap semuanya di sini gak akan cukup satu sesi jadi dikit- dikit aja dulu ya gaes.
 
Kembali ke Abang.
 
Abangku selain kuliahnya gak selesai, dia juga kalo ngomong asal njeplak alias gak dipikir dua kali apalagi saat marah bisa meledak- ledak sampai mengancam. Benar- benar pribadi yang tidak terkendali. Abang pun pernah dikasih modal sama Papah untuk berjualan karena katanya Abang maunya usaha, tapi ya gitu, Abang itu orangnya bosenan jadi gak ada usaha yang bener- bener diseriusin sampe akhirnya yaa sampe sekarang pun masih berganti- ganti usahanya atau pekerjaannya.

Mama Selingkuh

Semua keunikan itu semakin unik manakala kami tau Mama telah mengkhianati keluarga ini. Sedih? Jangan ditanya. Sebenarnya ini peristiwa yang menurutku cukup memalukan untuk diceritakan kalau bukan karena sharing is caring. Intinya aku cuma ingin pembaca bersyukur dengan hidupnya, ambil yang baik dari cerita ini dan buang buruknya yaa.
 
Apa yang ada di pikiran kalian ketika secara gak sengaja mendengar Ibu kalian berbicara mesra lewat telepon dengan laki- laki lain? Terjadinya pun gak cuma sekali dua kali dan ya itulah yang terjadi dengan Mama, ternyata selama ini Mama berpacaran dengan teman sekantornya dulu.
 
Kami juga baru tau kalo Mama punya beberapa hape/ telepon genggam yang diumpetin di dalam lemarinya. Setelah sekian lama curiga dari tingkah laku, gelagat Mama, banyak cerita sampai akhirnya terjadilah peristiwa itu. Ketika Abang akhirnya harus menggeledah lemari Mama dan membawa kabur hape- hape itu sampe harus lari- lari keliling komplek karena dikejar Mamah. Gimana? Apa sudah cukup memalukan?
Abang dan Mama main kejar- kejaran di komplek perumahan kira- kira menurut kalean apa yang akan dikatakan tetangga? Tapi entahlah boro- boro mikirin apa kata tetangga. Pas tau Mamah selingkuh aja udah bikin air mata susah keluar saking kecewanya.

Bayangin aja gaes, Papah waktu itu udah sakit, sakit ginjal, ditambah dikecewain Mamah. Ga kebayang deh rasanya jadi Papah, tapi ya jangan sampe deh kejadian ke kita.
 
Oke lanjut....

Alhasil dengan banyaknya bukti perselingkuhan yang jelas, Papa dan Mama resmi bercerai dan kami bertiga tentu saja ikut Papah. Apalagi aku yang dari awal merasa kelahiranku tidak diharapkan oleh Mama. Hehe

Benar terlihat olehku bahwa Papah lebih lega dan membaik setelah bercerai dengan Mama.

Abang Menikah

Hingga akhirnya tibalah saatnya aku tamat SMA dan masuk kuliah. Alhamdulillah aku bisa kuliah di luar kota, walau sebenernya sedih sih jauh dari Papah. Tapi Papah walaupun jauh selalu berusaha memberikan perhatian terbaiknya kepadaku sampai menitipkan aku pada dosen untuk memastikan aku baik- baik saja. Hampir setiap hari Papah menelpon dan menanyakan keadaanku, Papah bener- bener ngasih aku perhatian dan support yang memang kubutuhkan. Karena setelah Papa dan Mama bercerai, kami sempat loss contact dengan Mama. Jadi Papah terlihat sekali ingin aku tidak merasa kehilangan kasih sayang karena kekurangan sosok Ibu. Waktu itu benar- benar hanya Papah yang perhatian padaku, memberiku support sepenuhnya agar semangat kuliahnya.

Papah masih sakit, sakit ginjal yang bertambah parah dan bertambah sering jadwal cuci darahnya. Sebenarnya Papah sudah sakit semenjak aku masih SD tapi yah namanya juga Papah, Papah itu kuat.
 
Bersyukur Papah masih bisa mendampingi Abang ketika menikah. Walau sebenarnya untuk menikahpun Abang harus dengan sedikit paksaan dari Papah karena menurut Papah, Abang dinilai butuh seseorang yang bisa mengendalikan emosi Abang yang tidak stabil dan sebenarnya yaa tentu saja demi kehidupan Abang yang lebih baik. Seorang Ayah pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.

Ya, Papah lebih tenang dan lega setelah menikahkan Abang. Jadi, Papah lega karena kedua anaknya yang unik sudah menikah artinya masing- masing sudah punya seseorang yang menjaga. Tinggal aku yang belum.

Masih kuingat jelas sekali ketika Papah menikahkan Abang, ada percakapan sederhana antara aku dan Papah.
“Pah nanti kalo aku nikah, Papah temenin juga ya”
“Iya dong pasti Papah temenin”
, Papah bilang gitu dengan senyumnya yang khas.

Jalan Setapak

Papah Pergi

Walau aku berkuliah di luar kota tapi masih sering pulang ke rumah Papah, kadang seminggu sekali tapi kalau lagi banyak kegiatan bisa dua minggu sekali, dan tentu saja kalau lebaran pasti aku pulang.

Hari itu masih bulan puasa seminggu lagi lebaran, perkuliahan sudah diliburkan jadi akupun pulang.

Sesampainya aku di rumah ternyata penyakit Papah lagi kambuh jadi harus dirawat. Ya, Papah tuh walaupun sakit tapi masih bekerja, jadi kalau tiba waktu cuci darah, bekerjanya hanya setengah hari, jadi setengah harinya lagi untuk waktu cuci darah. Papah sering banget cuci darah sampai kulihat lengan Papah pembuluh darahnya sampai besar- besar.

Papah juga sering masuk rumah sakit ketika penyakitnya kambuh.
Jadi sama seperti hari itu, hari yang waktu itu kuanggap biasa saja, Papah harus dirawat di rumah sakit.

Sampai di penghujung Bulan Ramadhan Papah masih harus dirawat di rumah sakit. Waktu itu usai giliran aku menjaga Papah, Abang datang dan menyuruhku pulang dulu sebentar untuk istirahat, mandi, makan, dan solat.

Akupun pulang tanpa ada perasaan yang aneh- aneh. Aku mandi, istirahat sebentar, makan, dan solat. Pas lagi solat, hapeku berbunyi terus menerus. Setelah kulihat hape, ternyata telepon dari Abang. Abang menyuruhku untuk segera ke rumah sakit.

Aku bergegas kembali ke rumah sakit. Sesampainya disana, ternyata Papah udah ga ada.

Apa tadi Papah sengaja nunggu aku pulang biar bisa pergi. Rasanya duniaku runtuh. Kepergian Papah diiringi takbiran menggema dimana- mana karena besok lebaran.
 

Papah Benar, Aku Bisa Papah Percaya

Aku sedang masa- masanya lagi pusing nyusun skripsi ketika Papah berpulang. Lebaran itu. Suara takbir yang kata orang suara kemenangan namun sampai sekarang selalu terdengar sedih di telingaku.
Tapi kepergian Papah gak aku jadiin alasan buat molor ngerjain skripsi dan lulus tepat waktu karena akhirnya aku bisa lulus tepat waktu, ya, aku lulus dan di wisuda. Wisuda yang benar- benar menyedihkan sebenarnya. Tanpa Papah. Tanpa orang yang selama ini selalu mendukungku, menjagaku, dan ah rasanya ingin menangis ketika mengingatnya lagi.

Pah terimakasih atas semua perjuangan dan pengorbanan Papah, support dan perhatian Papah ke aku selama ini, sampai akhirnya aku lulus kuliah. Aku dengar Papah sering bilang, “Papah percaya sama kamu”
 
Iya aku pegang amanah Papah. Aku bisa Papah percaya.

Aku bisa lulus kuliah. Aku bisa kerja dan menghasilkan. Aku bisa hidupi diriku sendiri. Aku bisa memilih istri yang baik dan menikah walau Papah ga bisa nemenin.
 

Apakabar Mama?

Oh iya gimana kabar Mamah?
Aku sebagai anak tetap berusaha untuk berbakti karena Mama tetap seorang Ibu untukku dan ku tau ga ada Ibu yang sempurna begitu juga dengan Mama.

Segitu dulu aja cerita dari yang bersangkutan.
 

So,...

Pesan Ami buat temen- temen dan diri sendiri, siapapun yang orangtuanya masih lengkap, keluarganya bahagia. Yuk disyukuri, jangan lupa untuk membahagiakan orangtua kita, kalau belum bisa membahagiakan yaaa setidaknya jangan bikin mereka sedih.

You Might Also Like

6 comments

  1. Sedih ceritanya..ditunggu cerita lanjutannya ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, masih bingung mau dilanjutin dari mana gan :D

      Delete
  2. Mba Ami, tulisan ini keren banget, natural, mengalir, dan sarat makna. Saya tau gimana rasanya ditinggal papa yang perannya sangat penting di kehidupan. karena saya pun sudah kehilangan ayah.

    dan saya sepakat, mau bagaimanapun sikap orang tua kepada kita, kita mesti bersyukur kalau kita ada karena peran mereka berdua.

    tulisan ini udah menarik dan memikat hati pembaca, lanjutkan dan konsistenkan Mba Ani. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah saya seneng banget dikomen kadika, salah satu guru menulis saya, makasih kadika udah mampir dan meninggalkan jejak semoga sukses selalu ka :)

      Delete
  3. Pasti lega banget ya ka udah nulis ini? Keep being strong and inspiring.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe makasih mba diyari, sebenernya ini bukan kisah pribadi saya mbak, saya hanya mencoba menuliskan kembali cerita orang lain :D

      Delete