WFH oh WFH

Mulai nulis blog lagi saat keadaan dunia sedang seperti ini, yap, semua gara- gara corona atau Covid 19 yang entah bagaimana awal mulanya virus ini bisa kesebar hingga sekarang berhasil membuat seluruh dunia gempar karenanya.


Saya pun tak tahu, mungkin pak RT tahu.

Jadi begini, gara- gara tanggap darurat Covid 19 itu lah, sekolah diliburkan, termasuk sekolahnya Kimoy. Bingung lah saya sebagai ibunya, bagaimana mungkin saya bekerja sambil membawanya dalam kondisi seperti ini.

Namun alhamdulillah wa syukurilah mengingat di kantor saya tidak sedikit ibu- ibu yang mengalami kondisi sama persis seperti saya, kantor pun mengeluarkan kebijakan bahwa ibu- ibu yang mempunyai bayi/ balita yang sekolahnya diliburkan diperkenankan untuk menjalani WFH alias Work From Home alias kerja di rumah.
 
Kerja lho yaaa, bukan libur lho yaa.

Bhaique.

Terimakasih atas kebijakannya.

Tapi ingat, wfh ini berstatus fleksibel, artinya kalau dipanggil ke kantor ya harus dateng lho yaa.

Bhaique.

Saya pun menjalani WFH dengan semangat, bismillah, saya yakin pengalaman WFH tiap ibu berbeda. Saya hanya ibu dari satu bayi perempuan umur setahunan, tidak ada ART, orangtua dan mertua pun jauh karena saya dan suami disini sama- sama merantau. Tentu berbeda dengan pengalaman WFH tetangga saya yang adalah ibu dari dua orang anak laki- laki.

Selama di rumah, saya tentu saja tetap bekerja karena memang ada kewajiban kantor yang harus saya selesaikan, namun saya juga punya kewajiban sebagai ibu di rumah untuk mengurus anak dana suami, terutama supaya perekonomian tidak oleng jadi saya harus bisa lebih rajin memasak.

Sampai disini kebayang kan, ternyata WFH butuh pikiran dan tenaga ekstra terutama bagi seorang ibu. Saya yakin banyak ibu di luar sana yang juga sama merasakannya. Namun bagaimanapun kita harus bersyukur karena masih diberi pekerjaan dan penghasilan yang layak sementara banyak juga ibu- ibu di luar sana yang kena PHK karena kondisi seperti ini.


You Might Also Like

0 comments