Boleh Berdusta, Asalkan...

Tulisan ini berasal dari ceramah seorang ustadz pada saat acara Nuzulul Quran tahun 2016 yang maaf beribu maaf saya lupa nama ustadnya siapa, padahal sudah berusaha mengingat tapi terlalu banyak nama ustadz yang teringat takut salah siapa yang menyampaikan ceramah ini. Jadi mari jangan lihat siapa yang menyampaikan tapi kita lihat saja apa yang disampaikannya.

Oke ini dia pelajaran yang dapat diambil dari apa yang beliau sampaikan...


Allah mengutus Nabi Besar Muhammad SAW yang dari kalangan biasa, yang walaupun tidak bisa membaca, tapi Allah memberikan anugerah tak ternilai untuk melengkapi perjuangan Nabi.

Anugerah apakah itu?


Anugerah berupa kehadiran para sahabat yang diberikan kelebihan oleh Allah untuk melengkapi kekurangan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia dan selalu setia mendampingi perjuangan Nabi.

Iya, benar sekali bahwasanya keberadaan saudara dan teman- teman yang baik nan soleh merupakan rejeki yang tak terhingga. Bersyukurlah.

Pun benar bahwa sifat paling menonjol yang dapat kita pelajari dari Nabi Muhammad SAW berasal dari ketulusan hatinya sehingga muncullah sifat mulia Nabi yang jujur dan lemah lembut.


Sejatinya hal ini pun sudah sering kita dengar bahwa Allah tidak melihat kita dari penampilan luar saja, tidak juga dari bagaimana cara kita berjalan dengan membusungkan dada, tapi apa yang Allah lihat? Hatimu... Allah hanya melihat hatimu.

Hati adalah sumber dari segalanya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Nah, bicara tentang jujur, saya jadi laper karena jadi pengen makan jujur ayam kan? Atau jujur kacang ijo juga enak.

Hihi
Lanjut....

Kejujuran ini memang sangat langka dimiliki manusia jaman sekarang, padahal ada hadist bilang,

"Berkatalah yang jujur walaupun menyakitkan" (HR. Ahmad 5:159).

Tapi betapapun kejujuran ini merupakan sifat yang amat baik dan wajib kita amalkan, ternyata islam memiliki pengecualian- pengecualian untuk hal- hal baik lho, begitu juga dengan hal baik seperti sifat jujur ini.

Ah yang bener?
Masa sih jujur dilarang?

No no, jujur tidak dilarang, tapi ada kondisi- kondisi dimana kita harus menjaga ucapan kita meskipun ucapan itu merupakan kebenaran.

Dalam kondisi apa aja tuh?

Nah adapun kita dilarang untuk jujur adalah pada kondisi berikut


1. Ketika berperang


Saat perang, jangan jujur tentang apa apa mengenai persiapan perangmu, tentang strategi dan senjatamu. Karena jika musuh mengetahuinya, habislah kau. Bagaimana kau ini hah..

2. Jujur kepada 2 (dua) orang yang berselisih

Nah ini yang sulit dilakukan kebanyakan kita ni Buy, kayaknya kalo lagi ngomongin orang apalagi keburukannya suka heboh dan jadi lupa bahwa kita gak kalah buruknya dari orang yang kita omongin.

Padahal Nabi SAW sudah berpesan nih terutama kalau ada orang yang berselisih kita harus bercerita tentang kebaikannya (walau harus berbohong) agar orang itu  mau berdamai.

Jadi, ketika kamu berbicara kepada seseorang tentang seseorang lain yang sedang dibencinya, jangan berbicara tentang hal buruk yang kamu tau tentang orang yang dibencinya kepada orang yang membenci, karena walaupun yang kamu sampaikan adalah suatu kebenaran, jatuhnya tetap saja, kamu telah melakukan adu domba. Rasulullah SAW malah menganjurkan kita untuk mendamaikan dua orang yang berselisih dengan menyampaikan hal yang baik (bahkan hukumnya jadi wajib) tentang kedua orang yang berselisih tersebut bahkan boleh melebih- lebihkan kebaikannya demi mendamaikan keduanya.

"Bukan seorang pendusta, orang yang berbohong untuk mendamaikan antar-sesama manusia. Dia menumbuhkan kebaikan atau mengatakan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Jujur (tentang masa lalu) kepada pasangan

Hati

Sebenernya untuk penjelasan yang ini, gak terlalu bisa saya tangkep, mungkin udah mepet- mepet waktu buka puasa kali yah (ngeles). Hehe

Oke poin ketiga ini sepertinya dimaksudkan untuk menjaga perasaan pasangan kita. Selain itu sebagai pasangan, kita wajib saling membahagiakan demi mendapat ridha dari suami/ istri. Maka dari itu, hukumnya boleh jika suami atau istri suka melontarkan gombalan walaupun tidak jujur demi membagiakan pasangannya. Kebolehan berbohong ini tentu saja hanya untuk tujuan membahagiakan pasangan dan mendapat ridha pasangan. Jika tujuannya sudah melenceng maka berbohong menjadi dosa besar.

Nah, jadi itu dia 3 Kondisi dimana kita diperbolehkan berbohong yang kesemuanya sebenarnya telah terangkum dalam hadis Nabi SAW


"Dan aku (Ummu Kultsum) tidak mendengar bahwa beliau memberikan rukhsah (keringanan) dari dusta yang dikatakan oleh manusia kecuali dalam perang, mendamaikan antara manusia, pembicaraan seorang suami pada istrinya dan pembicaraan istri pada suaminya".(HR. Muslim).
 
Wallahu a’lamu bis shawab.

You Might Also Like

1 comments